Pengetatan Pasokan Dorong Harga Minyak Naik 1 Persen

Ilustrasi Harga Minyak Naik (Liputan6.com/Sangaji)

New York, Aceh Bisnis - Harga minyak mentah dunia naik 1 persen dipicu pemangkasan pasokan secara sukarela dari Venezuela dan Iran ditambah konflik di Libya, yang mendukung persepsi tentang akan terjadinya pengetatan di pasar minyak mentah.

Di sisi lain, data ekonomi China yang optimis meredakan kekhawatiran tentang berkurangnya permintaan minyak mentah.

Melansir laman Reuters, Sabtu (13/4/2019), harga minyak mentah berjangka Brent naik 72 sen, atau 1,02 persen, menjadi USD 71,55 per barel. Adapun minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS mengakhiri sesi naik 31 sen, atau 0,5 persen, menjadi USD 63,89 per barel.

Kedua tolok ukur itu mencatat kenaikan mingguan sekitar 1 persen, yang merupakan kenaikan ketiga berturut-turut pada Brent dan kenaikan keenam beruntun untuk WTI.

Pasar minyak juga mengikuti pasar saham global yang lebih tinggi setelah JPMorgan Chase & Co melaporkan kinerja pendapatannya.

Indeks Dolar Amerika Serikat (AS) merosot ke level terendah terhadap euro dalam lebih dari dua minggu, membuat harga minyak mentah lebih murah untuk pembeli non-AS.

"Ekuitas memulai awal yang baik dengan musim pendapatan dan indeks dolar yang melemah membantu menegaskan kembali kepercayaan di pasar minyak," kata Phil Streible, Ahli Strategi Komoditas Senior di RJO Futures di Chicago.

Harga minyak telah terangkat lebih dari 30 persen tahun ini oleh pengurangan pasokan yang dipimpin Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sanksi AS terhadap eksportir minyak Iran dan Venezuela. Juga ditambah meningkatnya konflik di Libya.

"Demonstrasi yang diinfuskan secara geopolitik dapat menembak harga ke arah atau bahkan melampaui USD 80 per barel untuk periode musim panas ini," kata RBC Capital Markets dalam sebuah catatan.

Kepala Perusahaan Minyak Nasional Libya pada hari Jumat memperingatkan bahwa pertempuran baru dapat menghapus produksi minyak mentah di negara itu.

Pemboman dengan pesawat perang terjadi pada hari Jumat di dekat pabrik minyak dan gas Mellitah, yang dioperasikan bersama oleh ENI Italia dan perusahaan minyak negara Libya NOC, menurut sumber.

Komentar

Loading...