Nasib Partai Kakbah Setelah Tsunami Rommy

Kantor Dewan Pimpinan Pusat Partai Persatuan Pembangunan di Jalan Pangeran Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat Foto: Nova Wahyudi/Antara Foto

Jakarta,Aceh Bisnis - Sepucuk surat disebar mantan Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan Romahurmuziy kepada wartawan saat keluar dari gedung Komisi Pemberantasan Korupsi, Sabtu, 16 Maret 2019. Sejumlah curahan hati tertuang lewat tulisan tangan pada dua lembar kertas folio tersebut. Yang menjadi sorotan di surat itu, Rommy--panggilan akrab Romahurmuziy--merasa dijebak dalam operasi tangkap tangan oleh KPK di Hotel Bumi, Surabaya, Jumat, 15 Maret.

“Saya merasa dijebak dengan sebuah tindakan yang tidak pernah saya duga, saya pikir, atau saya rencanakan bahkan firasat pun tidak. Itulah kenapa saya menerima sebuah permohonan silaturahmi di sebuah lobi hotel yang sangat terbuka dan semua tahu bisa melihatnya. Ternyata niat baik ini menjadi petaka,” begitu isi tulisan Rommy.

Rommy pun menulis, dirinya dibuntuti selama beberapa pekan sebelum akhirnya ditangkap dalam kasus dugaan suap pengisian jabatan di Kementerian Agama itu. Dan tak lupa Rommy mengingatkan kepada kader dan simpatisan partai berlambang Kakbah itu terus berjuang supaya lolos parliamentary threshold, yang dipatok 4 persen.

Nah busnya ini sedang melaju kencang, bensin sudah terisi penuh, penumpangnya juga sudah siap membawa bekal semua. Jadi tinggal ganti sopir saja. Setelah itu, tinggal tekan gas.”
Kasus yang melibatkan Rommy memang dianggap sebagai tsunami yang bisa semakin menggerus elektabilitas PPP. Apalagi, dari hasil survei yang telah dirilis sejumlah lembaga survei, elektabilitas partai itu bahkan tidak sampai 3 persen.

Veri Muhlis Arifuzzaman, pengamat politik dari Konsepindo Research and Consulting, kepada detikX menjelaskan OTT Ketua Umum PPP tentu mengguncang partai itu. Sebab, Rommy memegang jabatan utama di partai sehingga dampak langsung akan dirasakan oleh partainya.

Nasib PPP dinilai semakin merana karena, berdasarkan survei yang dirilis Konsepindo pekan lalu, ujar Veri, elektabilitasnya baru mencapai 2,2 persen. Artinya, butuh perjuangan keras dan keajaiban untuk lolos ke Senayan.

“Pada saat yang sama, sebagai parpol pengusung Jokowi, PPP pasti akan mengalami kecaman. Pasti akan menjadi bahan serangan empuk kubu lawan, juga akan dianggap sebagai partai yang tidak memberi teladan. Dalam hal ini paslon yang diusung PPP, yakni Jokowi-Ma'ruf Amin, akan dikait-kaitkan, istilahnya akan 'digoreng' habis,” ungkap Veri.

Meski demikian, peristiwa ditangkapnya ketua umum parpol salah satu partai pengusung biasanya tidak berdampak langsung terhadap penurunan elektabilitas pasangan capres yang diusung. “Ini akan berbeda kasusnya dengan para caleg yang diusung partai tersebut. Beban membangkitkan nama partai yang tercemar akan langsung dirasakan segera,” jelas Veri.

Sementara itu, dari informasi yang diperoleh detikX dari kalangan internal Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf, berdasarkan hasil survei internal untuk peta suara parpol koalisi pendukung Jokowi-Ma’ruf, PPP menjadi salah satu partai pendukung capres petahana yang tidak lolos ke Senayan dengan hasil survei 2,8 persen. “Dari angka tersebut, 60,3 persen pemilih PPP cenderung memilih pasangan 02 (Prabowo Subianto-Sandiaga Uno). Yang memilih Jokowi-Ma’ruf hanya 35,4 persen,” jelas sumber di lingkup internal TKN yang enggan disebut namanya.

Kantor Dewan Pimpinan Pusat Partai Persatuan Pembangunan di Jalan Pangeran Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat
Foto: Nova Wahyudi/Antara Foto

Meski PPP diprediksi banyak kalangan tidak akan lolos ke Senayan, terutama pasca-OTT Rommy, Wakil Ketua Umum PPP Arwani Thomafi mengaku masih optimistis partainya lolos. Baginya, guncangan yang dialami partainya hanya sesaat. Bahkan dia mengibaratkan partainya bagai sebagai sebuah bus sarat penumpang yang tiba-tiba berhenti karena sopirnya turun di tengah jalan.

“Nah, busnya ini sedang melaju kencang, bensin sudah terisi penuh, penumpangnya juga sudah siap membawa bekal semua. Jadi tinggal ganti sopir saja. Setelah itu tinggal tekan gas,” begitu Arwani menganalogikan kasus Rommy dan PPP kepada detikX.

Hal itulah yang menjadi alasan PPP bergegas mengganti sopir, yakni dengan menetapkan Suharso Monoarfa sebagai Pelaksana Tugas Ketua Umum PPP. Setelah itu akan dilanjutkan dengan pengukuhan di Mukernas.

Soal survei yang menyebutkan PPP tidak akan lolos ke parlemen, terutama imbas kasus OTT Rommy, Arwani mengaku sudah mendengar hasil survei tersebut. Namun, berdasarkan hasil survei internal, dia yakin PPP bakal melampaui ambang batas parlemen 4 persen. “Hasil internal kita bagus kok. Intinya lolos 4 persen,” tuturnya.

Namun, terkait pecahnya basis dukungan PPP dalam urusan pilpres, Arwani memakluminya. Menurutnya, kondisi serupa terjadi di partai koalisi yang lain, baik di kubu 01 maupun 02. “Partai apa sih yang full dukungannya? Kan tidak semua full. Di tempat saya saja, ada pengurus Gerindra yang dukung Jokowi. Apalagi Demokrat, itu banyak yang dukung Jokowi,” terang Arwani.

Sementara itu, Ketua DPP PPP Ainur Rofik saat dimintai konfirmasi secara terpisah menjelaskan, untuk bisa lolos ke Senayan di tengah badai kasus Rommy, sejumlah pengurus sudah punya langkah-langkah strategis. Dengan penunjukan pelaksana tugas ketua umum yang baru, Ainur berharap bisa mempercepat konsolidasi di PPP sehingga langkah partai bisa berjalan cepat dan efektif.

Sama seperti Arwani, Ainur Rofik tidak peduli pada hasil survei terhadap partainya yang dirilis sejumlah lembaga survei. “PPP itu setiap kali survei selalu dinyatakan tidak lolos. Tapi kenyataannya kan selalu melampaui semuanya. Lima tahun lalu juga begitu. Saya bukan menafikan survei, tapi kan survei itu dilakukan bukan saat ini,” ujar Ainur.

Wasekjen PPP Achmad Baidowi pun punya pendapat senada. Baginya, dalam setiap survei, itu ada margin of erorr. “Kalau margin of error-nya 3 persen, (sedangkan) hasil survei kita yang 2,5 persen, kalau ditambah kan jadi 5,5 persen. Kan begitu cara baca hasil survei,” ucap Baidowi alias Awiek kepada detikX.

Menurut Awiek, PPP selalu terpotret tidak lolos pemilu. Tapi, ketika pemilu, Partai Kakbah selalu lolos. Karena itu, mereka tidak khawatir terhadap sejumlah hasil survei yang sejauh ini dirilis.

Komentar

Loading...