BKIPM Aceh Musnahkan 2 Ekor Aligator Gar dan 12 Ekor Ikan Cupang

Petugas memperlihatkan ikan Aligator Gar yang akan dimusnakan dilakukan di Halaman Kantor SKIPM Kelas I Aceh, Blang Bintang, Aceh Besar, Kamis (14/3/2019).(Foto:Acehbisnis.com)

Banda Aceh, Aceh Bisnis - Badan Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Aceh memusnahkan dua ekor ikan berbahaya jenis Aligator Gar dan 12 ekor ikan cupang (ikan laga).

Pemusnahan terhadap pembawa hama dan penyakit ikan karantina ini dilakukan di Halaman Kantor SKIPM Kelas I Aceh, Blang Bintang, Aceh Besar, Kamis (14/3/2019).

Seluruh ikan ini merupakan hasil sitaan pihak BKIPM beberapa waktu lalu dari kargo Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM) serta dari para penghobi ikan di Banda Aceh yang menyerahkannya secara sukarela.

Kepala BKIPM Aceh, Diky Agung Setiawan mengatakan, sebanyak 12 ekor ikan cupang dari Belawan, Sumatera Utara ini masuk ke SKIPM Aceh sekitar 4 hari lalu tanpa dilengkapi dengan dokumen resmi karantina, sehingga seluruh ikan itu ditahan di Bandara.

“Seluruh ikan ini dikirim dari Tiki, ketika ikan itu sampai di kargo kami periksa dan kami teliti ternyata tanpa dokumen resmi,”kata Diky melalui Kasubsi Pengawasan Pengendalian dan Informasi (Wasdalin) SKIPM Kelas I Aceh, Silvia Wijaya di Banda Aceh.

Saat pemilik dihubungi, kata dia, tidak ada respon, jadi sesuai dengan SOP jika 3 hari setelah ikan sampai si pemilik tidak mengurus dokumen sah, maka ikan berhak kami ambil dan kami lakukan tindakan selanjutnya berupa pemusnahan.

Sementara dua ekor ikan lainnya yakni ikan Aligator Gar atau yang biasa disebut dengan ikan buaya merupakan ikan berbahaya (invasif) yang sifatnya merajai kawasan perairan. “Oleh karena itu, ikan Aligator Gar ini tidak diperbolehkan berada di perairan Indonesia karena dapat menyebabkan kepunahan bagi ikan lokal atau ikan asli Indonesia, khususnya di Aceh,”ungkapnya.

“Kalau pun ada itu pasti lewat pintu yang tidak resmi seperti pelabuhan atau bandara yang tidak sesuai izin. Makanya kehadiran ikan jenis Aligator Gar ini sangat dilarang, kita juga pernah imbau pemilik ikan berbahaya di Aceh pada akhir 2018 kemarin agar sukarela menyerahkan ikan invasifnya,”ungkap Silvi.

Sebelum disita dari pemilik atau penghobi ikan predator, pemilik mengakui bahwa ikan ini dibeli dari relasinya di luar negeri yang kemudian dikirim ke Aceh tanpa dokumen resmi. Namun, pihaknya tidak dapat melacak sumber pengiriman atau pembelian ikan ini darimana.

“Ada beberapa ikan berbahaya yang sudah kami identifikasi tahun lalu, seperti di SPBU Beureunun, Pidie dan tempat wisata Taman Rusa, Kecamatan Sukamakmur, Aceh Besar. Namun, mereka punya surat izin dan pemeliharaannya untuk edukasi yang bekerjasama dengan kami,”jelasnya.

Selain itu, kata dia, mereka juga berkomitmen tidak melepaskan ikan invasif ini ke perairan umum karena menyebabkan kepunahan bagi ikan lokal kita, khususnya Aceh.

Dalam pemusnahan ikan invasif dan sejenisnya, sebenarnya ada dua cara pemusnahan yang dapat dilakukan yakni dengan cara dibakar atau dikubur. Namun, kali ini BKIPM Aceh memusnahkan ikan ilegal ini dengan cara dibakar karena lebih sederhana dengan jumlah ikan yang sedikit.(hfz/ded)

Komentar

Loading...