DPRA Akan Panggil Pihak Sekolah Atas Kasus Tewasnya Pelajar SUPM Ladong

Banda Aceh, Aceh Bisnis - Pihak DPRA merasa prihatin atas kasus tewasnya Raihan Alsyahri (16), pelajar Sekolah Usaha Perikanan Menengah (SUPM) Ladong, Aceh Besar asal Sumatera Utara beberapa waktu lalu yang jasadnya ditemukan di kawasan bukit belakang sekolah.

Pihakmua menilai, kali ini dunia pendidikan kembali tercoreng. Pasalnya, diduga korban meninggal dunia karena dianiaya oleh seniornya di sekolah.

Hal ini dikatakan Ketua Komisi V DPRA, Mohd Al Fatah saat diwawancarai kemarin. "Jika terbukti adanya kelalaian pihak sekolah dalam pengawasan, kita akan panggul pihak sekolah," ujarnya Senin (4/3/2019).

Pihaknya pun kini masih menunggu informasi lebih lanjut dan memantau perkembangannya hingga kasus ini menemui titik terang nantinya. Menurutnya, meski sekolah SUPM Ladong berada dibawah Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Republik Indonesia, DPRA memiliki wewenang untuk mengintervensi.

"Sekolah itu berasa dibawah kementerian bukan dibawah pemerintah provinsi, tapi kita bisa panggil mereka untuk jelaskan duduk masalahnya. Karena yang sekolah disitu anak Aceh dan jadi pengawasan kita," jelas Fatah.

Seharusnya, pihak sekolah lebih melakukan pengawasan terhadap para pelajarnya. Jika terindikasi terjadi hal yang tak diinginkan, segera dicegah secara cepat. Dirinya pun tidak setuju dengan aturan yang berlaku di sekolah tentang senior dan junior sehingga terjadinya risiko perploncoan.

"Dari dulu saya tidak sependapat dengan aturan itu. Pihak sekolah jangan pakai lagi cara seperti itu, kalau ada hukuman seharusnya menguntungkan bagi pelajar bukan malah merugikan. Pihak sekolah yang hukum bukan malah senior," ungkapnya lagi.

Pihaknya pun menyayangkan kasus yang menimpa remaja asal Sumatera Utara itu. Menurutnya, hal demikian kerap terjadi di sejumlah daerah lainnya. "Seharusnya, hal itu menjadi pengalaman pihak sekolah sekaligus evaluasi agar tak terjadi di kemudian hari," katanya.

Sementara, Humas SUPM Ladong, Aceh Besar, Harun mengatakan, peristiwa itu adalah kasus yang pertama sekali terjadi di sekolah itu. "Sudah 35 Tahun berdiri dan ini peristiwa pertama sekali," katanya kemarin.

Di sekolah yang mendidik para pelajar Aceh dan Sumatera Utara itu pun diakui bahwa masih ada sistem senior dan junior. "Sistem senior dan junior itu hanya sebatas misal yang jaga piket senior sementara yang dijaga junior," ungkapnya.

Pihak sekolah pun, lanjut Harun, masih menyerahkan sepenuhnya kasus ini kepada kepolisian. (hfz/ded)

Komentar

Loading...