Polisi Diduga Salah Tangkap di Aceh Utara

acehbisnis.comKorban diduga salah tangkap di Aceh Utara Melapor ke Yara

Banda Aceh, Aceh Bisnis - Peristiwa salah tangkap yang diduga dilakukan oleh personel kepolisian kembali terjadi. Kali ini, salah tangkap terjadi terhadap Syarifuddin (33), warga asal Matangkuli yang kini berdomisili di Lhoksukon, Aceh Utara.

Pria yang diketahui berprofesi sebagai PNS tepatnya guru di salah satu sekolah dasar di Aceh Utara ini ditangkap kawasan di SPBU Lhoksukon, Aceh Utara, Kamis (21/2/2019) malam lalu.

Hal ini terungkap saat ia ditemui di Kantor Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA), Banda Aceh, Kamis (28/2/2019) sore dengan didampingi Ketua YARA, Safaruddin. Ia pun meminta bantuan hukum dari pihak YARA atas perlakuan yang dialaminya.

Bahkan, peristiwa salah tangkap itu pun sempat direkam oleh kamera handphone milik warga sekitar yang berada di SPBU. Video singkat yang berdurasi beberapa menit itu pun tersebar di sejumlah media sosial seperti Facebook.

Saat diwawancarai, Syarifuddin mengaku hal itu berawal saat dirinya hendak menemui salah satu rekannya yang pernah meminjam uang dengan menggadaikan sebuah motor. Akhirnya, uang itu pun berencana dikembalikan kepada korban dan motor yang digadaikan akan diambil kembali.

"Teman saya menggadaikan motornya senilai Rp 900 ribu dan malam itu akan dikembalikan. Saat menunggu uang yang akan diberikan, tiba-tiba datang sejumlah orang yang mengaku polisi yang salah satunya pakai sebo dan langsung menangkap saya," ujarnya.

Dirinya yang merasa kaget atas perlakuan itu pun meronta dan melawan. Ia juga sempat mempertanyakan atas dasar apa penangkapan itu dilakukan. Syarifuddin pun sempat diseret dan langsung diangkut oleh oknum itu ke dalam sebuah minibus warna hitam yang dikendarai.

"Sempat ada tembakan peringatan ke udara, saya diseret, dimasukkan ke mobil tapi sempat keluar kali. Kemudian diangkut lagi lalu saya langsung menuju ke lokasi orang ramai dan duduk disitu. Warga bertanya kenapa, saya bilang tidak tahu," ungkapnya.

Sejumlah oknum kepolisian itu pun kemudian berangkat pergi meninggalkan lokasi kejadian dengan mobil yang digunakan. Pasca kejadian, dirinya bersama keluarga sempat mendatangi Polsek setempat yang kemudian berlanjut ke Polres Aceh Utara untuk mempertanyakan kejadian itu.

Di Mapolres Aceh Utara, Syarifuddin diarahkan untuk bertemu dengan Kasat Resnarkoba Polres Aceh Utara, AKP Ildani Ilyas. Kasat Resnarkoba pun meminta maaf atas apa yang telah terjadi. Diakui, pihaknya berencana menangkap seorang DPO penjual sabu dan motor yang selama ini buron.

"Mereka minta maaf dan mengaku hal itu adalah sebuah kesalahan (salah tangkap), bahkan saat saya minta tunjukkan petugas yang menangkap itu, beliau sempat hadirkan satu orang. Permintaan maaf pun dilakukan beberapa hari kemarin dengan berkunjung ke rumah," jelasnya.

"Saya sempat minta mereka untuk mengeluarkan surat pernyataan yang menunjukkan bahwa saya tidak bersalah, tetapi katanya mereka tidak berhak untuk mengeluarkan surat yang saya maksud," katanya.

Karena merasa malu mendapat perlakuan yang demikian sekaligus merasa trauma dengan apa yang dialami, Syarifuddin pun meminta bantuan hukum ke pihak YARA.

Sementara, Ketua YARA, Safaruddin yang mendampingi korban mengatakan, pihaknya telah membuat laporan ke Bid Propam Polda Aceh atas insiden yang dialami Syarifuddin, siang tadi. Laporan itu pun sudah diterima petugas dan dikatakan akan segera diproses.

"Korban merasa trauma, apalagi ada sejumlah bekas luka ringan dan lecet yang dialami karena diseret seperti luka di bagian kaki, punggung, lutut serta celana yang robek dan baju yang dikenakan saat itu hilang," katanya.

Pihaknya berharap, Polda Aceh dapat langsung memproses laporan yang telah dibuat. Mereka pun menyesali atas apa yang telah terjadi. Pasalnya, menurut Safar, hal seperti ini terjadi bukan hanya satu kali.

"Kita ketahui di Aceh ada beberapa kali, di Aceh Utara juga sebelumnya pernah dan berujung damai. Kita harapkan hal yang begini tidak terjadi lagi dan penegakan hukum di Aceh bisa dilakukan dengan benar," ungkap Safaruddin.

Pelaporan yang dilakukan, sambungnya, agar peristiwa salah tangkap ini tak terjadi lagi. Kepolisian pun diharapkan dapat melakukan penindakan hukum secara profesional. "Ini agar jadi efek jera bagi petugas dan bisa jadi polisi yang profesional," tambahnya. (hfz/ded)

Komentar

Loading...