Kabar Emiten: AirAsia Rugi karena Avtur, Laba Astra Melejit

Pengunjung tengah melintasi layar pergerakan saham di BEI, Jakarta, Senin (13/2). Pembukaan perdagangan bursa hari ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat menguat 0,57% atau 30,45 poin ke level 5.402,44. (Liputan6.com)

Jakarta, Aceh Bisnis - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Rabu (27/2/2019) dengan pelemahan sebesar 0,23% ke level 6.525,68.

IHSG ditransaksikan di zona merah kala mayoritas bursa saham Asia ditutup variatif. Indeks saham Asia yang melemah, di antaranya Hang Seng (-0,05%), KLCI (-0,32%), PSEI (-1,24%), dan Straits Times (-0,36%). Sementara yang menguat antara lain Nikkei 225 (0,5%), Shanghai Composite (0,42%), dan Kospi (0,37%).

Pelaku pasar menantikan hasil pertemuan tingkat tinggi antara Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un yang berlangsung di Vietnam pada 27-28 Februari 2019.

Ada beberapa peristiwa yang terjadi pada emiten-emiten dan layak disimak oleh investor sebelum perdagangan hari ini, Kamis (28/2/2019) dibuka, sebagai berikut.

1. Tertekan Kurs dan Avtur, AirAsia Rugi Rp 998 M pada 2018
Emiten maskapai PT AirAsia Indonesia Tbk (CMPP) mencatatkan kinerja kurang menggembirakan sepanjang 2018. AirAsia mencatat rugi (sebelum pajak) sebesar Rp 998 miliar di 2018.

Direktur Utama PT AirAsia Indonesia Tbk, Dendy Kurniawan mengatakan biaya operasional perusahaan di 2018 membengkak lantaran nilai tukar Rupiah melemah terhadap dollar AS dan naiknya harga avtur seiring merangkaknya harga minyak mentah dunia. Belum lagi, tahun lalu juga terjadi rentetan bencana alam Bali, Lombok dan Palu. Bencana-bencana ini berdampak terhadap keyakinan para wisatawan, terutama asing, untuk berkunjung ke Indonesia.

"Profitabilitas juga sangat terdampak oleh meningkatnya biaya operasional, yang didorong oleh peningkatan harga minyak dunia dan pelemahan Rupiah terhadap Dolar AS di sepanjang tahun," kata Dendy, dalam keterangan pers, Rabu (27/2/2019).

2. PGN Siapkan Infrastruktur Demi Pasar LNG Domestik
PT PGN Tbk (PGAS) akan memperkuat perannya sebagai pemain LNG domestik. Untuk itu, perusahaan telah menyiapkan infrastruktur yang dibutuhkan guna mencapai hal tersebut.

Direktur Utama PGN Gigih Prakoso menuturkan, untuk memperkuat porsi di LNG domestik, PGN sudah mempunyai infrastruktur LNG berupa FSRU Lampung, yang merupakan fasilitas untuk penyimpanan dan regasifikasi LNG floating. FSRU ini mampu meregasifikasi LNG dengan kapasitas penyaluran gas 240 MMSCFD sebagai pasokan LNG di Lampung dan Jawa Barat. "PGN juga sedang membangun fasilitas storage unit LNG di Jawa Timur sebesar 30 BBTUD untuk tambahan pasokan gas di Jawa Timur," ujar Gigih saat dihubungi CNBC Indonesia, Rabu (27/2/2019).

3. Iklan Digital Melesat, Laba MNC di 2018 Capai Rp 1,61 T
Emiten media milik taipan Hary Tanoesoedibjo, PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) mencatat laba bersih (belum diaudit) naik 2% menjadi Rp 1,61 triliun pada tahun lalu dari pencapaian laba bersih 2017 sebesar Rp 1,57 triliun.

Adapun ebitda (earning before interest, tax, depreciation and amortisation) atau laba sebelum beban bunga, beban pajak, beban depresiasi, dan beban amortisasi juga naik 2% menjadi Rp 3,15 triliun dari sebelumnya Rp 3,09 triliun. Margin laba bersih atau net income margin menjadi 22%, tak tauh berbeda dari sebelumnya, sedangkan ebitda margin di level 42%, turun dari sebelumnya 44%.

4. Laba Wika Gedung Meroket 59,78%
Laba bersih PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk (WEGE) meroket 59,78% sepanjang 2018 lalu. Perusahaan berhasil mengantongi laba bersih senilai Rp 444,24 miliar di tahun lalu dibandingkn dengan laba bersih di tahun sebelumnyayang tercatat senilai Rp 294,87 miliar.

Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, pada periode tersebut pendapatan perusahaan secara year on year (YoY) tumbuh 49,32% menjadi Rp 5,82 triliun. Tumbuh dari Rp 3,89 triliun di periode yang sama tahun sebelumnya. Meski demikian, nilai laba per saham perusahaan malah turun menjadi Rp 46,41/saham dari sebelumnya sebesar Rp 49,02/saham.

5. Harga CPO Merosot, Laba Astra Agro 2018 Anjlok 27%
PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) membukukan kinerja yang kurang memuaskan pada 2018. Laba bersih Astra Agro turun signifikan hingga 25% seiring dengan penurunan harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di pasar internasional. Sepanjang 2018, harga CPO di pasar dunia tercatat anjlok 14,97% menjadi MYR 2.300/ton dari MYR 2.705/ton.

Laba bersih AALI tercatat turun 26,91% menjadi Rp 1,44 triliun dari Rp 1,97 triliun yang diperoleh pada 2017. Padahal pendapatan perseroan pada periode yang sama tercatat naik 10,28% menjadi Rp 19,08 triliun dari tahun sebelumnya Rp 17,31 triliun. Penurunan laba bersih tersebut disebabkan oleh kenaikan beban yang meningkat 18,04% menjadi Rp 15,54 triliun dari Rp 13,17 triliun.

6. 2018 Laba Waskita Karya Tumbuh 2,08% Jadi Rp 3,96T
PT Waskita Karya Tbk (WSKT) sepanjang 2018 mencatat kenaikan laba bersih yang terbilang tipis, hanya sebesar 2,08% Rp 3,96 triliun. Tahun 2017 laba bersih perseroan tercatat sebesar Rp 3,88 triliun.

Berdasarkan laporan keuangan perusahaan yang dirilis hari ini, perusahaan mengantongi pendapatan sepanjang 2018 senilai Rp 48,78 triliun, Naik 7,90% dari pendapatan di periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp 45,21 triliun. Dengan demikian jumlah laba per saham perusahaan juga ikut naik menjadi Rp 291,05/saham, tumbuh dari Rp 284,14/saham.

7. Genjot Kredit, Danamon Terbitkan MTN Rp 500 M
PT Bank Danamon Tbk (BDMN) akan menerbitkan surat utang jangka menengah (medium term notes/MTN) senilai Rp 500 miliar. Surat utang ini dibandrol dengan tingkat bunga sebesar 8,15% per tahun yang akan ditawarkan dengan skema private placement.

Berdasarkan keterbukaan informasi yang dirilis perusahaan di Bursa Efek Indonesia (BEI), penerbitan MTN ini ditujukan untuk memperkuat struktur pendanaan perusahaan sesuai dengan ijin usaha yang dijalankannya. Sekretaris Perusahaan Bank Danamon Rita Mirasari mengatakan surat utang ini memiliki jangka waktu selama 370 hari dan memperoleh peringkat AAA dari Pefindo.

8. Laba Bersih Astra di 2018 Naik 15% Jadi Rp 21,67 T
PT Astra International Tbk (ASII) membukukan laba bersih sepanjang tahun lalu mencapai Rp 21,67 triliun, naik 15% dibandingkan dengan laba periode yang sama tahun 2017 sebesar Rp 18,85 triliun.

Kenaikan laba bersih ini seiring dengan pendapatan perseroan yang naik hingga 16% menjadi Rp 239,21 triliun dari sebelumnya Rp 206,06 triliun, dengan pertumbuhan pendapatan pada hampir semua segmen bisnis, terutama dari segmen bisnis alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi, serta otomotif.

Komentar

Loading...