40 Tunanetra Diajarkan Ketrampilan Merajut Tas dan Bronjong

acehbisnis.comAnak-anak tuna netra merajut bronjong

Banda Aceh, Aceh Bisnis - Sebanyak 40 anak tunanetra dari berbagai kabupaten/kota yang berada di Panti Asuhan UPTD Rumoh Sejahtera Beujroh Meukarya (RSBM) milik Dinas Sosial Aceh diajarkan langkah-langkah beradaptasi, serta bekal ketrampilan hidup mandiri.

Tuna netra yang berada di Panti Asuhan di Desa Ladong, Kecamatan Masjid Raya, Aceh Besar diajarkan keterampilan berupa pelatihan merajut tas, dan merajut bronjong. Para tunanetra laki-laki diajarkan oleh instruktur cara merajut bronjong, sementara perempuan diajarkan obagaimana cara merejut tas.

“Keterampilan diajarkan bagi anak-anak tunanetra agar mereka nanti saat kembali ke masyarakat sudah punya modal, yang kira-kira modal itu memiliki nilai jual bagi mereka sendiri seperti yang kita bina,” kata Kepala UPTD RSBM, Fachrial, Kamis (14/02/2019) di Banda Aceh.

Menurut dia, UPTD RSBM memiliki tugas melaksanakan sebagian kegiatan teknis di bidang pelayanan, pembinaan dan rehabilitasi terhadap penyandang tunanetra yang berasal dari anak-anak keluarga kurang mampu untuk dididik dan dibekali keterampilan.

“Untuk itu, sejak pertama kali dimasukkan ke panti untuk diasuh, anak-anak binaan langsung di didik dan dilatih keterampilan. Selama ini, hasil karya anak-anak binaan UPTD RSBM telah banyak didistribusikan untuk dipasarkan, atau pun dijual saat ada pameran-pameran yang diikuti oleh Dinas Sosial Aceh baik tingkat lokal, maupun nasional,”jelasnya.

“Seperti belajar buku dan Alquran braile. Selain itu juga ada pelajaran musik dan peningkatan keterampilan seperti membuat bronjong, bunga, dan anyaman tas seperti hari ini,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Seksi (Kasi) Pelayanan dan Pemibinaan, Fuadi mengatakan, RSBM pada intinya hanya menampung disabilitas netra dari keluarga tidak mampu untuk dididik dan dilatih keterampilan oleh intruktur-intruktur yang sudah berpengalaman di bidangnya.

“Kita harapkan setelah anak-anak binaan nantinya kembali ke tengah-tengah masyarakat, mereka  bisa menerapkan ketrampilan dalam kehidupan sehari-hari atas apa yang telah dipelajari saat masih di panti,”ungkapnya.

“Insya Allah panti juga akan memberikan paket-paket usaha ekonomi produktif (UEP) yang mereka butuhkan dan tentu disesuaikan dengan pelatihan-pelatihan yang mereka geluti selama masih di panti ini,”katanya.

Untuk batas waktu pengasuhan, jelas dia, pihaknya akan menyesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan klien.  “Untuk tempo pengasuhan kita tidak bisa pukul rata karena sangat tergantung dari kecatatan dari mereka,”ungkapnya.

Suryadin, salah seorang anak cacat netra mengatakan, selama dirinya dibina di panti bersama anak-anak lainnya, setiap hari mereka dilatih berbagai keterampilan seperti merajut kawat bronjong, anyaman rotan, massage (menjahit) dan kelas musik.

Selain itu mereka  juga belajar menulis dan membaca huruf braile. Inilah yang diajarkan oleh pihak instruktur kami di sini. “Kami merasa sangat senang, karena ini akan menjadi beka bagi kami setelah kami tidak lagi di panti dan di kembalikan ke masyarakat nanti,”katanya.(ril/ded)

Komentar

Loading...