Mahasiswa KKN Olah Boh Giri Menjadi Asinan

Foto: Istimewa

Lamno, Aceh Bisnis - Jeruk Bali memiliki ukuran lebih besar dari jeruk biasa, kulit yang lebih tebal, butiran-butiran jeruk berwarna kemerah-merahan. Tentunya sebagian dari kita akan menjawab mengenai ciri-ciri fisik dari buah yang memiliki nama Latin, Citrus Maxima tersebut.

Meski memiliki ciri-ciri fisik yang sangat berbeda, namun rasa manis yang dimiliki jeruk ini juga tidak kalah seperti jeruk biasa lainnya. Tak heran jika Jeruk Bali juga banyak dijadikan sebagai salah satu buah tangan atau oleh-oleh yang dijaja di pinggiran jalan, terutama di kawasan jalan lintas nasional.

Berbicara soal Jeruk Bali dan oleh-oleh, ada salah desa (gampong) di Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya, Aceh, dikatakan sebagai daerah penyuplai buah yang jika dalam Bahasa Aceh disebut Boh Giri. Desa tersebut yakni bernama Gampong Lamme.

Ketika mencoba mengunjungi kampung yang diduduki sebanyak 179 kepala keluarga itu, memang hampir setiap rumah menanam tanaman Pamelo. Bahkan ada beberapa rumah warga yang menanam hingga tiga batang pohon.

Berdasarkan keterangan dari Keuchik Gampong Lamme, Hasan, tanaman Boh Giri sengaja ditanam oleh warganya yang awalnya hanya untuk menambah pendapatan keluarga.

“Jadi, di sini (Lamme), menanam pohon giri itu bukan peraturan dari desa, bukan qanun desa, cuma kesadaran dari masyarakatnya untuk menanam satu rumah minimal satu batang pohon giri. Dengan tujuannya untuk menambah pendapatan atau ekonomi uang dapurlah,” kata Hasan saat dijumpai di Aceh Jaya.

Boh Giri yang dihasilkan oleh daerah ini ternyata tidak hanya dijajakan di pinggir jalan lintas pantai barat Aceh saja. Bahkan buah yang banyak mengandung nutrisi dan berbagai vitamin tersebut juga dikirim ke luar Aceh. Pengiriman itu biasanya dilakukan oleh agen-agen yang datang langsung ke Lamme.

“Mereka mengumpulkan kemudian menjualnya di pinggiran jalan sebagai oleh-oleh dari Lamno. Dan mungkin sekarang meluas dikirim ke luar daerah Aceh, seperti Batam, Jakarta, dan pernah juga ke Bandung,” ujar Hasan.

Diolah Jadi Asinan

Sejumlah muda-mudi dengan mengenakan topi hijau bertulisan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Syiah Kuala warna kuning, siang itu terlihat sedang duduk-duduk bersama sejumlah ibu-ibu di teras rumah berlantai keramik warna jingga.

Selain ada sejumlah anak kecil, di seputaran mereka juga terletak beberapa peralatan maupun bumbu dapur, seperti cabai, garam, dan lain sebagainya. Tak luput dari mata, di antara mereka juga terlihat Boh Giri yang telah dipotong sedemikian rupa.

Ihza Oloan beserta temannya, Iwan Adha Reta Penara, Nanda Azalia, T Ananta Maulana, Rafiqa Irwandi, Kausar, Rahmatillah, Mira Nurhayati, dan Tiara, merupakan mahasiswa yang sedang melakukan sosialisasi kepada sejumlah warga Gampong Lamme. Saat dijumpai, mereka sedang mempraktekan cara mengolah Boh Giri menjadi salah satu produk ekonomi rumahan.

Langkah ini dilakukan tentunya karena memanfaatkan Gampong Lamme yang memang sebagai daerah penghasil Boh Giri. Selain itu, agar warga setempat tahu bahwa buah tersebut tidak hanya dijual dalam bentuk utuh, namun juga dapat dikemas dengan inovasi baru berupa asinan Boh Giri.

“Tentunya untuk menjadikan Boh Giri memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi daripada dijual secara konvensional seperti biasa,”tambah Ihza Oloan.

Ia juga mengatakan, cara membuat asinan dari Boh Giri tidak terlalu sulit. Ia menjelaskan, ada beberapa langkah mulai dari perebusan buah hingga membuat larutan kuah asinan.

Pertama-tama buah direndam dalam air panas sebanyak 500 mili yang telah dicampur 2 sendok kapur siri dan 3 sendok garam. Kemudian didiamkan selama lebih kurang 30 menit. Tiris agar air kapur yang melekat di buah sebelumnya tidak menempel.

Selanjutnya, kata dia, untuk membuat kuah asinan, yang dilakukan pertama kali yakni menyediakan air lebih kurang 250 mili, dan bisa ditambah sesuai kebutuhan atau keinginan. Menambahkan garam sebanyak 2 sendok makan dan begitu juga dengan gula, lalu memberikan perasan jeruk lemon, serta potongan cabai. Jika ingin menambahkan hiasan di atasnya, bisa ditambah dengan memotong tipis buah lemon dan nata de coco (air kelapa yang dipermentasikan).

Bagi Kesehatan

Selain memberikan kesegaran, asinan Boh Giri atau Jeruk bali juga memiliki sejumlah manfaat bagi kesehatan. Hal ini dikarenakan Jeruk Bali mengandung banyak nutrisi dan berbagai vitamin. Selain itu, mengandung jumlah yang kaya bioflavonoid berharga dan mencegah kanker serta penyakit berat lainnya.

Jeruf bali memiliki manfaat untuk mengurangi kolesterol, mencegah diabetes, baik untuk pencernaan, menyembuhkan insomnia, serta membantu penurunan berat badan.

Sementara itu kandungan dalam nata de coco (air kelapa yang dipermentasikan) yang digunakan sebagai tambahan, memiliki kandungan mineral dan vitamain yang pastinya baik untuk kesehatan.

Bagi Keuchik Gampong Lamme, tindakan yang dilakukan oleh para mahasiswa tersebut disambut baik olehnya. Dia pun mengakui bahwa sebelumnya, di kampung yang diduduki 800 orang itu, Boh Giri belum pernah diolah dalam bentuk asinan.

“Sebelumnya di sini buah giri memang belum pernah diolah secara kemasan dan belum ada inovasi-inovasi untuk mengembangkan buah giri itu menjadi produk,” ujar Hasan.

Rencananya, asinan yang telah diberi lebel LA (Lamme Asinan) Boh Giri tersebut akan terus dilanjutkan. Bahkan diharapkan produk tersebut tidak hanya sebagai asinan yang dihasilkan di sejumlah rumah saja, melainkan bisa memberikan penghasilan masukan bagi desa.

“Ini inovasi yang luar biasa, semoga saja inovasi yang diberikan oleh adik-adik ini menjadi satu masukan untuk pertumbuhan ekonomi masyarakat dan menjadi makanan khas Aceh Jaya,”pungkasnya.(ril/ded)

Komentar

Loading...