39 Tahun Warga Pedalaman Nagan Raya Gunakan Rakit untuk Penyeberangan

Sejumlah pelajar menumpang rakit bambu menyeberangi sungai Bedono saat berangkat sekolah di Desa Rebug, Kemiri, Purworejo, Jawa Tengah, Rabu (16/3). Sejak setahun terakhir warga setempat terpaksa menggunakan rakit bambu sebagai sarana penyeberangan darurat karena jembatan penghubung antardesa roboh diterjang banjir. ANTARA FOTO/Anis Efizudin/foc/16.

Nagan Raya, Aceh Bisnis - Ratusan warga di pedalaman Nagan Raya tepatnya di kawasan Desa Blang Lango, Kecamatan Seunagan Timur, sudah 39 tahun menggunakan rakit sebagai sarana transportasi.

Alat transportasi tradisional ini digunakan warga untuk melintasi aliran sungai (DAS) Krueng (sungai) Nagan, yang menghubungkan antara Desa Blang Geudong dan Blang Lango, kecamatan setempat.

"Akibat tak adanya jembatan penghubung, warga disini sudah menggunakan rakit sejak tahun 1980 atau persisnya 39 tahun," kata Kepala Desa Blang Lango, Oediyantri kepada Antara, Sabtu (26/1).

Rakit penyeberangan ini sudah beberapa kali diganti dan dibuat secara swadaya oleh masyarakat, untuk digunakan sebagai sarana transportasi alternatif guna mempersingkat jarak ke ibukota kecamatan maupun ibukota kabupaten.

Hal ini dilakukan warga karena sampai saat ini, kawasan pedalaman tersebut belum memiliki sarana jembatan penghubung sejak daerah itu berada dalam Kabupaten Aceh Barat, maupun ketika sudah mekar menjadi Kabupaten Nagan Raya sejak tahun 2002.

Untuk menggunakan sarana rakit penyeberangan ini, kata Oedriyanti, setiap pengguna jasa dikenakan tarif sebesar Rp5.000 untuk sekali menyeberang.

Agar terbebas dari terisolir, masyarakat di kawasan pedalaman di kawasan ini berharap dapat segera dilakukan pembangunan oleh pemerintah daerah, termasuk membangun sarana jalan yang belum permanen, pintanya.

Komentar

Loading...