HAkA: Deforestasi Hutan Aceh Menurun 2018

Inthutan

Banda Aceh, Aceh Bisnis - Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA) menyebutkan, deforestasi hutan di Aceh pada 2018 menurun. Pada 2018, angka kehilangan tutupan hutan di Aceh mencapai 15.071 Ha. Ini disampaikan GIS Manager Yayasan HAkA, Agung Dwinurcahya saat dikonfirmasi Kamis (24/1/2019).

Menurutnya, angka ini menurun dibandingkan deforestasi tahun 2017, yaitu sebesar 17.820 Ha. Kabupaten tertinggi yang mengalami deforestasi adalah Aceh Tengah (1.924 Ha) disusul Aceh Utara (1.851 Ha), Gayo Lues (1.494 Ha), dan Nagan Raya (1,261 Ha). "Saat ini Tutupan Hutan di Aceh tersisa 3.004.352 Ha," ujarnya.

Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) di Aceh yang menjadi fokus area kerja HAkA juga mengalami kerusakan dengan angka deforestasi pada 2018 sebesar 5.685 Ha. Jika dihitung berdasarkan kabupaten yang ada di KEL, Kabupaten yang mengalami deforestasi terparah adalah Gayo Lues (1.063 Ha), Nagan Raya (889 Ha) dan Aceh Timur (863 Ha).

"Tutupan hutan di KEL Aceh hingga Bulan Desember 2018 menyisakan 1.799.715 Ha lagi. Pemantauan kerusakan hutan dilakukan dengan teknologi penginderaan jauh citra satelit dan dibantu dengan deteksi otomatis GLAD Alerts dari Global Forest Watch (GFW) yang kemudian dilakukan interpretasi secara visual. Area yang terpantau rusak akan dilakukan ground checklangsung oleh Tim FKL," ungkapnya.

Sejak 2016, angka deforestasi di KEL Aceh terus menurun tiap tahunnya. Angka deforestasi di KEL Aceh pada 2016 sebesar 10.348 Ha, 2017 sebesar 7.066 Ha, dan 2018 sebesar 5.685 Ha. Sementara di Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) Aceh, Deforestasi pada 2016 sebesar 460 Ha, pada 2017 sebesar 624 Ha dan 2018 sebesar 807 Ha.

HAkA juga memantau titik api dan bencana alam di Aceh yang terjadi selama 2018 menggunakan sensor MODIS dan VIIRS. Sepanjang tahun 2018, jumlah titik api yang terdeteksi sensor MODIS sebanyak 482 titik dan sensor VIIRS sebanyak 3.128 titik.

"Kabupaten tertinggi yang terdapat titik api adalah Kabupaten Gayo Lues dengan 352 titik dari sensor VIIRS dan 83 dari sensor MODIS," kata Agung.

Jika dianalisis berdasarkan Batas Fungsi Kawasan Hutan SK KemenLHK Nomor 103 Tahun 2015, Setelah APL, Kawasan Hutan yang mengalami deforestasi tertinggi adalah Hutan Lindung sebesar 3.577 Ha, kemudian Hutan Produksi sebesar 2.728 Ha dan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) 807 Ha”.

"Laju deforestasi ini sangat berdampak dengan bencana-bencana yang terjadi di Aceh seperti banjir dan kekeringan. Ditinjau dari batas Daerah Aliran Sungai (DAS), deforestasi tertinggi di tahun 2018 terjadi di DAS Singkil / Alas yaitu sebesar 2,726 Ha. DAS Alas meliputi Kabupaten Gayo Lues, Aceh Tenggara, Subulussalam, Aceh Singkil hingga ke Sumatera Utara," ungkapnya.

Sepanjang tahun 2018, setidaknya terjadi 10 kasus bencana banjir di DAS Alas yang mana ngka ini yang tertinggi dibanding DAS lainnya. DAS Peusangan juga mengalami kerusakan parah, dengan angka deforestasi sebesar 1,248 Ha. Batas DAS Peusangan meliputi Aceh Utara dan Aceh Tengah yang mana sebanyak 6 kecamatan terdampak banjir dan 3 kecamatan terdampak kekeringan selama tahun 2018

"KEL adalah sumber air penting bagi 4 juta masyarakat Aceh dan KEL juga adalah berfungsi sebagai mitigasi bencana seperti banjir dan longsor. Kita tidak ingin kedepan masyarakat Aceh dihantam oleh bencana banjir dan kekeringan yang lebih dahsyat," jelasnya.

"Oleh karena itu, HAkA dan FKL mendesak pemerintah dan para penegak hukum untuk lebih serius melindungi kawasvan hutan dan menghukum para pelaku aktivitas kehutanan ilegal. Hutan yang sudah rusak harus segera dilakukan restorasi secara masif," tambah Agung.(hfz/hfz)

Komentar

Loading...