Nelayan Lhokseumawe Butuh Seribu Ton Es Batangan Setip Bulan

Nelayan memuat es batangan untuk persiapan melaut di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) lama di Lampulo, Banda Aceh, Selasa (28/1/2014). Mereka mengeluhkan minimnya fasilitas yang disediakan pemerintah di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) yang baru seperti dermaga yang dangkal, jalan belum diaspal, dan belum adanya pabrik es. SERAMBI/M ANSHAR

Lhokseumawe, Aceh Bisnis - Dalam sebulan, nelayan di Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh, membutuhkan setidaknya 1.000 ton lebih es batangan untuk digunakan sebagai pengawet ikan selama berlayar mencari ikan di sekitar perairan Selat Malaka.

"Kebutuhan es batangan akan lebih tinggi lagi, apabila sedang musim ikan tertentu. Karena banyaknya tangkapan, ikut mempengaruhi tingginya permintaan es batangan," ujar Asmadi, Kepala Unit Pelayanan Teknis (UPT) Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Pusong, Lhokseumawe Jumat.

Lanjutnya, berdasarkan data yang dikumpulkan oleh pihaknya, nelayan di Lhokseumawe yang berangkat dan membongkar hasil tangkapan di PPI Pusong, setiap bulannya mencapai 1.064.180 Kilogram atau 1064,18 ton es batangan. Kebutuhan es batangan dimaksud, penting bagi nelayan sebagai bahan pengawetan ikan agar tetap segar hingga didaratkan.

Sementara itu, harga es batangan di Lhokseumawe bervariasi, mulai dari Rp 25 ribu hingga Rp 30 ribu per batang. Es tersebut dipasok oleh beberapa pabrik es yang ada di Lhokseumawe.

Sebut Asmadi lagi, sedangkan untuk kebutuhan nelayan lainnya didalam melakukan aktivitas melaut, tetap stabil seperti biasa. Seperti, untuk bahan bakar, air, garam, gas dan juga oli mesin kapal.

Rincinya, dalam sebulan kebutuhan bahan bakar jenis solar sebanyak 389.235 liter, air bersih sebanyak 479.945 liter, garam, 483 Kilogram, gas sebagai bahan bakar memasak selama melaut sebanyak 5.737 Kilogram dan oli mesin kapal nelayan sebanyak 1.941 liter.

"jumlah tersebut merupakan ukuran rata-rata kebutuhan nelayan di sini, selama sebulan untuk mendukung aktivitas dan kegiatan melaut," kata Kepala UPT PPI Pusong, Lhokseumawe.

Komentar

Loading...