Gunawan Ditemukan di Lapas High Risk Nusakambangan

Banda Aceh, Aceh Bisnis - Tim kuasa hukum dari Nikmaturizza, yakni istri dari salah satu napi kasus narkoba bernama Gunawan yang dipindahkan dari Lapas Klas II A Banda Aceh ke luar Aceh pasca kerusuhan yang terjadi beberapa waktu lalu akhirnya bertemu dengan Gunawan di Lapas Nusakambangan, Selasa (8/1/2019) kemarin.

Tim kuasa hukum yang terdiri dari Yusi Muharnina, Hasbi Baday dan Hendri Saputra itu pun beserta istri dan anak-anak Gunawan berterima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam mencari keberadaan Gunawan hingga ditemukan di Lapas Nusakambangan.

"Akhirnya keresahan dan kecemasan istri tentang keberadaan suaminya terpenuhi walaupun menempuh perjalanan sampai ke Cilacap tepatnya ke Lapas Klas 1 Batu (High Risk) Narkotika Nusakambangan," ujar Yusi Jumat (11/1/2019) sore.

Menurutnya, perjalanan mencari keberadaan Gunawan ini tak semudah seperti membalikkan telapak tangan karena Lapas High Risk dilengkapi dengan pengamanan yang super ketat. Pihaknya pun berdama keluarga sempat hampir patah semangat.

Ia menceritakan, sebelumnya atas arahan dari salah seorang rekan, pihaknya diimbau untuk menemui Kadivpas Jawa Tengah, Heni Yuwono. Namun karena yang bersangkutan tidak di tempat dan kebetulan sedang berada di Nusakambangan, pihaknya pun melanjutkan perjalanan ke Cilacap.

"Sampai disana, kami menuju ke pelabuhan di Wijaya Pura (Nusakambangan), disana lagi-lagi kami kesulitan untuk menyeberang karena alasan lapas ini adalah lapas berisiko tinggi, banyak aturan super ketat yang harus dipenuhi, semua diperiksa," kata Yusi.

"Termasuk tidak bisa atau tidak diperbolehkan membawa apa-apa ke dalam lapas, termasuk baju, makanan, karena semua sudah disediakan oleh lapas. Lapas ini memang sangat luar biasa pengamananya, tapi Alhamdulillah semua bisa kami lalui berkat bantuan semua pihak yang baik kepada kami," jelasnya.

Menurutnya, Kadivpas Jawa Tengah, Heni Yuwono mengatakan pihaknya membantu pihak kuasa hukum dan keluarga Gunawan karena ras kemanusiaan. Namun, untuk menjumpai yang bersangkutan tim kuasa hukum dan keluarga diharuskan mengikuti SOP yang ditentukan lapas dengan segala aturannya.

"Karena itu akhirnya istri, anak beserta keluarganya yang selama ini mencari keberadaan Gunawan terobati, mereka bertemu untuk sejenak menghilangkan kerinduan yang ingin sekali bertemu karena sebelum dipindah ke Binjai, anak dan istrinya setiap hari menjenguk (kecuali hari yang tak dibolehkan) dan mengantar makanan. Ini yang membuat anak dan istrinya kalang kabut mencari keberadaan suaminya saat mengetahui suaminya tidak lagi di Lapas Klas IIA Banda Aceh," ungkapnya.

Lapas 1 Batu High Risk adalah lapas yang diperuntukkan untuk narapidana berisiko tinggi (High Risk) atau yang melakukan kejahatan luar biasa seperti narkoba dan terorisme dan yang membedakan Lapas High Risk dengan lapas lainnya adalah dalam hal perlakuan yang diberikan.

Dalam lapas High Risk, setiap satu sel penjara hanya akan dihuni oleh satu narapidana. "Jadi one man one cell, mereka ditempatkan sendiri nanti akan ada penilaian sejauh mana, regulasinya sendiri, aturannya sendiri untuk lapas ini. Jadi tidak sama dengan lapas-lapas lain," katanya.

Sebelumnya, Yusi dan tim juga sudah membuat laporan ke Ombusman Republik Indonesia Perwakilan Aceh secara tertulis maupun lisan dengan menemui Kepala Ombudsman RI Perwakilan Aceh, Taqwaddin Husin di kantornya. Mereka juga telah mengirimkan surat ke Ombusman RI di Jakarta, meski ada beberapa item yang belum lengkap dan akan segera dilengkapi.

"Kita sudah mengetahui keberadaan Gunawan, yang jadi pertanyaan kenapa surat dari lapas yang ditandatangani oleh Kalapas Banda Aceh, Endang Hardiman tertanggal 20 Desem 2018 berada di Binjai dan yang lebih anehnya lagi sampai ke Nusakambangan berkas Gunawan tidak ada," ungkapnya.

Menurut analisa pengacara, pengambilan Gunawan dari Lapas Klas IIA Banda Aceh yang berada di Lambaro, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar terkesan di paksakan.

"Kami pihak pengacara tetap mempertanyakan alasan pemindahan Gunawan dari Lapas Klas IIA Banda Aceh. Sebab, alasan pemindahan tidak disebutkan secara detail. Padahal, Gunawan sudah menjalani lebih dari separuh masa hukumannya. Kami tetap ingin mengetahui apa alasan Kalapas berbohong, kepada pihak keluarga," tegasnya.

Pihak keluarga Gunawan beserta tim kuasa hukum pun berterima kasih kepada anggota DPR RI Komisk III, Nasir Djamil, Dirjen Pembinaan Narapidana, Harun Sulistianto, Kadivpas Jateng, Heni Yuwono, Kadivpas Aceh, Meurah Budiman, Kadivpas Manado, Edi Hardoyo serta Kabid Kamtib di Wijayapura (Nusakambangan), Kamal yang telah membantu mencari keberadaan dan mengizinkan pihak keluarga untuk bertemu dengan Gunawan. (hfz/ded)

Komentar

Loading...