Proyek Bronjong Dana DOKA di Agara Rawan Korupsi

Proyek beronjong di Desa Bambel Gabungan, Bambel, Aceh Tenggara. Foto: Hidayat

Kutacane, Aceh Bisnis – Pelaksanaan proyek pembagunan bronjong di Desa Bambel Gabungan, Kecamatan Bambel, Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Aceh rawan terjadi korupsi. Pasalnya, pengerjaan proyek pengendalian banjir di Lawe Alas itu dinilai tidak sesuai dengan spesifikasi, bangunan tebingan sungai tersebut.

Bedasarkan informasi, proyek bronjong itu menggunakan Anggaran Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA) yang dikerjakan oleh CV Darma Jaya Geroup.

Apalagi, bahan material pondasi dasar bronjong itu diduga hanya menggunakan sirtu atau kolar saja yang langsung dimasukkan dengan menggunakan alat berat (Beko) oleh pekerja.

“Kami menilai proyek bronjong yang sedang dikerjakan tersebut tidak bermanfaat sama sekali, karena pembagunan bronjong tersebut tidak akan sangup menahan derasnya air sungai Lawe Alas apabila terjadi hujan, sehingga dapat jebol kembali,”kata Armansyah, salah seorang warga setempat kepada wartawan Aceh Bisnis, Senin (3/12/2018).

Menurut dia, pembagunan proyek itu seakan dilakukan asal jadi, karena dalam pekerjaan itu seperti pemasangan batu di dalam berojong tidak padat dan banyak batu berukuran kecil juga dimasukkan oleh pekerja kedalam kawat beronjong.

“Kami yakin bronjong itu tak akan bertahan lama, karena pembagunannya asal jadi dilakukan oleh kontraktor/rekanan,”ungkap Wakman, salah seorang warga lainnnya.

Proyek beronjong di Desa Bambel Gabungan, Bambel, Aceh Tenggara. Foto: Hidayat

Sementara itu, Ketua Gerakan Pemuda dan mahasisswa Aceh Tenggara (Gepmat) Agara, Faisal Kadrin Dube mengatakan, pihaknya sangat menyanyangkan pembagunan proyek bronjong itu dilakukan asal jadi.

“Seharusnya pembangunan bronjong itu menggunakan batu besar yang berdiameter 15 – 25 cm, bukannya batu kecil,”ungkap Faisal kepada wartawan di Kutacane.

Ia menyatakan, seharusnya pemborong lebih mengutamakan kualitas dan kuantitas proyek tersebut sehingga bangunan bronjong ini kuat dan tidak mudah hancur.

Apalagi, sebut dia, anyaman kawat pagar bronjong itu pun terlihat tidak menggunakan paku ikat. Wajar saja bila hujan, gampang berubah bentuk, lalu ambruk karna pasangan batu belahnya menggunakan kolar dan sirtu.

“Seharusnya materialnya pake batu belah jadi akan saling mengunci sehingga tidak habis lagi tergerus oleh derasnya air sungai,”pungkasnya.()

Komentar

Loading...