BRI Selektif Lakukan Hapus Buku

Ilustrasi aktivitas pelayanan Bank BRI - Antara/A. Jarot Nugroho

Jakarta, Aceh Bisnis - Hapus buku kredit bermasalah perbankan terus meningkat hingga kuartal III/2018, untuk menurunkan rasio kredit bermasalah.

Bankir optimistis dengan strategi yang tepat, hapus buku akan berdampak positif terhadap kualitas aset, bukan hanya mempercantik laporan keuangan.

Hingga akhir September, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. mencatatkan total hapus buku senilai Rp8 triliun, meningkat 31,14% dari periode yang sama tahun lalu senilai Rp6,1 triliun. Adapun, recovery kredit bermasalah mencapai Rp4,2triliun, meningkat 35,48% secara tahunan.

Direktur Manajemen risiko BRI Mohammad Irfan mengatakan bahwa hapus buku kredit bermasalah mayoritas dilakukan kepada debitur di segmen kredit mikro. Menurutnya, segmen tersebut memiliki tingkat recovery yang lebih baik dibandingkan segmen lainnya.

“Bukan karena non-performing loan [NPL] paling banyak di segmen tersebut, tetapi karena recovery-nya paling bagus,” katanya, Selasa (6/11).

Dia mengatakan jumlah hapus buku kredit bermasalah masih akan terus meningkat sampai dengan akhir tahun. Namun, dia memastikan hapus buku dilakukan dengan mengutamakan segmen mikro yang memiliki tingkat recovery tinggi.

Bank yang berfokus pada kredit mikro tersebut mencatatkan rasio kredit bermasalah pada level 2,46% pada akhir kuartal III/2018, meningkat dari posisi pada September tahun lalu 2,23%. Penyumbangnya berasal dari debitur di segmen komersil kecil, menengah, dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Adapun segmen mikro, konsumer, dan korporasi mengalami penurunan NPL.

Selain melakukan hapus buku, perseroan juga merestrukturisasi sejumlah kredit dengan total nilai mencapai Rp46,5 triliun, meningkat 12,31% secara tahunan. Mayoritas restrukturisasi kredit dilakukan pada segmen komersil kecil, dan korporasi. Adapun segmen dengan restrukturisasi kredit paling kecil adalah segmen konsumer, senilai 1,8% dari total restrukturisasi kredit.

Menurutnya, ke depan perseroan optimistis masih dapat mengelola risiko kredit dengan baik. BRI, lanjutnya, juga memiliki biaya pencadangan atau provisi yang cukup tebal untuk mengantisipasi NPL. Tercatat, BRI memiliki biaya pencadangan Rp34,5 triliun dengan rasio NPL coverage mencapai Rp181,94%.

Komentar

Loading...